![]() |
| Si Udin sedang berdo'a |
Si Udin baru membuka sepatu dan segera menuju tempat berwudhu di sebuah mesjid. Baru dua langkah, Udin disapa seorang kakek tua yang rambutnya putih dipenuhi uban. Si kakek tanpa mengenalkan diri langsung mengatakan sesuatu sambil menyodorkan satu lembar kertas:
'Ini nak, mungkin saja kamu berkenan membacanya dan menjadi kalimat dalam doa usai sholat Jumatmu'.
Udin menerima kertas itu, tak sempat ngobrol apapun karena si kakek segera pamit dengan dua tangannya yang langsung menyalami Udin sambil tersenyum.
Kertas itu dimasukkan kedalam celana, khawatir basah terkena air wudhu, dan setelah masuk mesjid, udin menyapu seisi ruang untuk mencari si kakek dan tak berhasil masuk radar matanya. Udin mengambil kertas, mumpung ceramah Jumat belum mulai. Ia mulai membaca dari kata pertama:
'Ya Allah, umatmu tengah bertengkar. Masing-masing memegang teguh kebenaran menurut versinya sendiri menurut kelompoknya sendiri. Semua orang tengah menanam kebencian dan ranjau dendam agar permusuhan kian meruncing. Hari-hari ini semua orang sedang pesta merayakan tudingan dan penghakiman. Jika setuju/sejalan akan dianggap 100% benar, jika tak setuju/tak sejalan akan dianggap salah 100%. Padahal setiap orang ada benarnya juga ada salahnya. Sekarang setiap orang meyakini akulah si benar mutlak, kamulah si salah absolut.
Ya Allah, kemana perginya sifat jantan itu?. Maukah mereka jantan untuk mau mengakui kekeliruan dirinya sendiri?, maukah mereka jantan berbesar hati menemukan kebenaran dari orang lain yang beda pendapat?.
Kasihan anak cucu kita melihat ini, mereka sedang bingung melihat orang-orang bertengkar antar sesama, mereka sedang kebingungan melihat kebenaran melawan kebenaran, kok kebaikan melawan kebaikan?. Lalu kapan mereka mau duduk bersama dengan kepala dingin untuk mencari tau, apa yang salah dan bukan melulu mencari tau siapa yang salah?.
Ya Allah, kalau di dalam hidup ini memang harus ada hal yang dimenangkan dan dikalahkan, apakah kami harus mengalahkan anak negeri sendiri?, lantas apa hebatnya anak-anak bangsa Indonesia mengalahkan bangsa sendiri?, siapa yang akan bahagia jika kami semua segera tiba pada puncak pertengkaran di antara mereka sendiri satu saudara?.
Dan negeri-negeri luar sedang menunggu perpecahan itu dan lalu segera mereka akan mengambil semua yang menjadi milik kita. Mereka menunggu keluarga bangsa ini semakin pecah dan rapuh.
Ya Allah selamatkan kami, anugerahi selalu kami kesadaran bahwa, betapa kerukunan ini adalah anugerah rezeki besar yang harus kami jaga dan wariskan untuk anak cucu kami".
Udin membiarkan kertas itu terbuka, dan menaruhnya dengan liar, berharap ada orang lain yang membaca. Udin bertanya dalam hati, siapa kakek itu?, dan Udin mencoba menjawab sendiri dalam hati: 'Oh dia orang yang tentu tak ingin dikenali, aku yakin ada ulama-ulama seperti dirinya yang setiap malam memanjatkan doa itu demi keselamatan negeri bernama Indonesia'.
Begitulah kisah itu dituturkan oleh Che, sungguh inspiratif. Semoga menjadi bahan renungan untuk kita semua agar kita selalu menjunjung tinggi toleransi BUKAN AROGANSI.
Source Che Cupumanik
Begitulah kisah itu dituturkan oleh Che, sungguh inspiratif. Semoga menjadi bahan renungan untuk kita semua agar kita selalu menjunjung tinggi toleransi BUKAN AROGANSI.
Source Che Cupumanik

No comments:
Post a Comment